Iklan

Sunday, 2 September 2012

PENDEKATAN BEHAVIORAL UNTUK PEMBELAJARAN



Pendekatan behavioral menekankan arti penting dari bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku, pendekatan behavioris pertama yang akan kita bahas adalah penhkodisan klasik.
Pendekatan Klasik
pada awal 1900-an, psikolog Rusia Ivan Pavlov tertarik pada cara tubuh mencerna makanan. Dalam eksperimennya, dia secara rutin meletakkan bubur daging di depan mulut anjing, yang menyebabkan anjing mengeluarkan air liur. Anjing itu berliur ketika sedang merespons sejumlah stimuli yang diasosiasikan dengan makanan, dan suara pintu tertutup saat makanan tiba. Palvov menyadari bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting, yang kemudian dikenal sebagai pengkodisian klasik (classical conditioning).
Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran di mana suatu organism belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam stimulus netral (setiap melihat seseorang) diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna (sepertu makanan) dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respons yang sama. Untuk memahami teori pengkondisian klasik  Pavlov (1927) kita harus memahami dua tipe stimuli dan dua tipe respons unconditioned stimulus (US), Uncoditionated response (UR), conditioned stimulus (CS), dan conditioned responses (CR).
Gambar 7.2. meringkaskan cara kerja pengkondisian klasik. Unconditioned stimulus (US) adalah sebuah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. Dalam eksperimen Palvov, makanan adalah US. Unconditioned response (UR) adalah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. Dalam eksperimen Palvov, air liur anjing yang merespons makanan adalah UR. Sebuah  conditioned stimulus (CS) adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned response setelah diasosiasikan dengan US. Di antara stimuli yang terkondisikan dalam eksperimen Pavlop adalah beberapa penglihatan dan suara yang terjadi sebelum anjing menyantap makana, seperti suara pintu tertutup sebelum makanan ditempatkan di piring anjing, Conditioned response (CR) adalah respons yang dipelajari, yakni respons terhadap stimulus yang terkondisikan yangmuncul setelah terjadi pasangan US-CS.


Gambar 7.2. Pengkondisian Klasik Pavlop
Dalam sebuah eksperimen, Pavlov menyajikan stimulus netral (bel) sebelum undonditioner setimulus (makanan). Stimulus netral tersebut menjadi conditioned stimulus setelah dipasangkan dengan unconditioned stimulus. Kemudian, conditioner stimulus (bel) tu sendiri mbisa membuat anjing berliur.

Pengkondisian klasik dapat berupa pengalaman negative dan positif dalam diri anak di kelas. Di antara hal-hal di sekolah anak yang menghasilkan kesenangan karena telah dikondisikan secara klasik adalah lagu favorit, perasaan bahwa kelas adalah tempat yang aman dan menyenangkan, dan kehangatan dan perhatian guru. Misalnya, lagu bisa jadi merupakan hal netral bagi murid sebelum murid bergabung denganmurid lain untuk menyanyikannnya diiringi oleh perasaan yang positif.
Anak-anak akan  merasa takut di kelas jika mereka mengasosiasikan kelas dengan teguran, atau kritik menjadi CS untuk rasa takut. Pengkondisian klasik juga dapat terjadidalam kecemasan menghadapi ujian. Misalnya, anak gagal dalam ujian dan ditegur, dan ini menghasilkan kegelisahan; setelah itu, anak mengasosiasikan ujian dengan kecemasan, sehingga menjadi CS untuk kecemasan . (lihat Gambar 7.3).

Gambar 7.3 Pengkondisian Klasik dalam kritik Guru terhadap Murid dan Ujian

Beberapa problem kesehatan anak mungkin juga mengandung penkondisian klasik. Keluhan fisik tertentu asma, sakit kepala, borok, tekanan darah tinggi mungkin berhubungan dengan pengkondisian klasik. Kita biasanya mengatakan bahwa problem kesehatan itu disebabkan oleh stress. Tetapi, seringkali yang terjadi adalah bahwa stimuli tertentu, seperti teguran keras dari orang tua atau guru, merupakan conditioned stimuli  untuk respons psikologis.dari waktu ke waktu, frekuensi respons psikologis bisa menghasilkan problem kesehatan. Teguran guru yang terus menerus terhadap murid bisa menyebabkan murid sakit kepala, otot kaku dan sebagainya. Segala sesuatu yang  diasosiasikan dengan guru, seperti latihan soal di kelas dan pekerjaan rumah, mungkin memicu stes anak dan karenanya menimbulkan bisul atau respons filologis lainnya.
Generalisasi, Diskriminasi, dan Pelenyapan. Dalam mempelajari respons anjing terhadap berbagai stimuli, Pavlov membunyikan bel sebelum memberi bubur daging kepada anjing. Dipadukan dengan US (Daging), bel itu menjadi CS dan membuat anjing mengeluarkan air liur. Setelah beberapa waktu, Pavlov menemukan bahwa anjing itu juga merespon suara lain, seperti peluit. Semakin mirip suara itu dengan itu juga merespon suara lain, seperti peluit. Semakin mirip suara itu  dengan suara bel, semakin kuat respons si anjing. Generalisasi dalam pengkondisian klasik adalah tendensi dari stimulus baru yang sama dengan conditioned stimulus yang asli untuk menghasilkan respons yang sama (Jones, Kemenes, & Benjamin, 2001). Misalkan murid dimarahi karena ujian biologinya buruk. Saat murid itu mulai bersiap untuk ujian kimia, dia juga menjadi gugup karena dua matapelajaran itu saling berkaitan. Jadi, murid itu menggeneralisasikan satu ujian mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.
Diskriminasi dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organism merespons stimuli tertentu tetapi tidak merespons stimuli lainnya (Murphy, Baker, & Fouqiet, 2001). Untuk menghasilkan diskrimanasi, Pavlov memberi makan anjing stelah bel berbunyi dan tidak memberi makan setelah membunyikan suara lainnya. Akibatnya, anjing itu hanya merespons suara bel. Dalam kasus murid yang mengikui ujian di kelas, dia begitu gugup saat menempuh ujian pelajaran bahasa Inggris atau sejarah karena dua mata pelajaran itu jauh berbeda dengan mata pelajaran kimia dan biologi.
Pelenyapan (extinction) dalam pengkondisian klasik adalah pelemahan conditioned response (CR) karena tidak adanya unconditioned stimulus (US). Dalam satu sesi, Pavlov membunyikan bel berulang kali tetapi tidak memberikan makanan kepada anjing. Akhirnya Anjing itu tidak lagi berliur. Demikian pula, murid yang gugup mengikuti ujian akan mulai menempuh tes dengan lebih baik, dan kecemasannya mereda.
Desensitisasi Sistematis. Terkadang kecemasan dan stress yang terkait dengan kejadian negative dapat dihilangkan  dengan pengkondisian klasik (Powell & Symbaluk, 2002). Desensitisasi sistematis (systematic desensitization) adalah sebuah metode yang didasarkan pada  pengkondisian klasik yang dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dengan cara membuat individu mengasosiasikan relaksasi dengan visualisasi situasi yang menimbulkan kecemasan. Bayangkan bahwa anda punya murid di kelasyang sangat gugup saat diminta bicara di depan kelas. Tujuan dari desensitisasi sistematis adalah membuat murid itu mengasosiasikan bicara di depan public dengan relaksasi, bukan kecemasan. Dengan menggunakan visualisasi berkali-kali, murid itu bisa melatih desensitisasi sistematis selama dua minggu sebelum bicara, kemudian seminggu sebelum bicara, lalu empat hari sebelum bicara, dua hari sebelum bicara, pagi hari sebelum maju bicara, saat masuk ke ruang tempat dia akan bicara di depan public, saat berjalan ke podium, dan saat berbicara.
Desensitisasi melibatkan sebuah tipe counterconditioning (McNeil, 2000). Perasaan rileks yang dibayangkan murid (US) menghasilkan relaksasi (UR). Murid kemudian mengasosiasikan isyarat yang menimbulkan kecemasan (CS) dengan perasaan relaksasi. Relaksasi tersebut bertentangan dengan kecemasan. Dengan memasangkan isyarat penghasil kecemasan dengan relaksasi, dan secara bertahap menyusun hierarki (dari duaminggu sebelum bicara sampai berjalan ke podium untuk berbicara), semua isyarat yang menimbulkan kecemasan akan menghasilkan relaksasi (CR).
Mungkin anda punya murid yang takut bicara di depan kelas, atau cemas, dan mungkin ada situasi di dalam kehidupan Anda sendiri dimana Anda bisa mendapatkan manfaat dari upaa mengganti kecemasan dengan relaksasi. Misalnya, adalah hal biasa bagi beberapa guru merasa sangat tenang jika bicara di depan kelas tetapi gugup jika diminta memberikan presentasi di hadapan suatu konferensi. Konselor dan professional kesehatan mental telah berhasil membuat individu mengatasi demam panggung ini dengan menggunakancara desensitisasi sistematis. Apabila Anda tertarik untuk menggunakan cara ini, lakukan dengan bantuan psikolog sekolah.
Mengevaluasi Pengkondisian Klasik. Pengkondisian klasik membantu kita memahami beberapa aspek pembelajaran dengan lebih baik. Cara ini membantu menjelaskan bagaimana stimuli  netral menjadi diasosiasikan dengan respons yang tak dipelajari  dan sukarela (LOlordo, 2000). Ini sangat membantu untuk memahami kecemasan dan ketakutan murid. Namun, cara ini tidak efektif untuk menjelaskan perilaku sukarela, seperti mengapa murid belajar keras untuk satu mata pelajaran atau lebih menyukai sejarah ketimbang geografi. Untuk area ini, pengkondisian operasi akan lebih relevan.

Pengkondisian Operan
Pembahasan kita terhadap pengkondisian operan disebut dengan definisi umum kemudian beralih ke pandangan dari Thonrdike dan Skinner.
Pengkondisian operan (juga dinamakan pengkondisian instrumental) adalah sebelum pembelajaran di mana konskuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. Arsitek utama dari pengkondisian operan adalah B.F. Skinner, yang pandangannya didasarkan pada pandangan E.L. Thorndike.
Hukum Efek Thorndike. Pada saat yang hampir sama dilakukannya sebuah eksperimen pengkondisan klasik anjing oleh Ivan Pavlov, E. L. Thorndike (1906) Sedang mempelajari kucing dalam kotak. Thorndike menempatkan kucing yang lapar dalam sebuah kotak dan meletakkan ikan di luar kotak. Untuk bisa keluar dari kota, kucing itu harus mengetahui cara membuka palang di dalam kotak tersebut. Pertama-tama kucing itu melakukan beberapa respons yang tidak efektif. Dia mencakar atau menggigit palang. Akhirnya, kucing itu secara tidak sengaja menginjak pijakan yang membuka palang pintu. Saat kucing dikembalikan ke kotak, dia melakukan aktivitas acak seperti acak sampai dia menginjak pijakan itu sekali lagi. Pada percobaan berikutnya, kucing itu semakin sedikit melakukan gerakan acak, sampai dia akhirnya bisa langsung menginjak pijakan itu untuk membuka pintu. Hukum Efek (Law Effect) Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negative akan diperlemah.
Pertanyaan utama untuk Thorndike adalah bagaimana respons stimulus yang benar (S-R) ini menguat dan akhirnya mengalahkan respons stimulus yang tidak benar. Menurut Thorndike, asosiasi SR yang tepat akandiperkuat, dan asosiasi yang tidak tepat akan melemah, karena konsekuensi dari tindakan organism. Pandangan Thorndike disebut teori S-R karena perilaku organism itu dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan respons. Seperti yang akan kita lihat selanjutnya, pendekatan Skinner memperluaskan ide dasar Thorndike ini.
Pengkondisian Operan Skinner. Pengkondisian operan, di mana konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubhan dalam probabilitas perilaku itu akan terjadi, merupakan inti dari behaviorisme Skinner (1938). Konsekuensi imbalan atas hukuman bersifat sementara (kontingen) pada perilaku organism. Imbalan dan hukuman ini nanti akan kita jelaskan lebih lanjut.
Penguatan dan hukuman. Penguatan (Imbalan) (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas  terjadinya suatu perilaku. Misalnya, Anda mungkin berkata kepada murid Anda, “Selamat. Saya merasa senang setelah membaca cerita yang kalian tulis.” Jika murid bekerja lebih keras dan menulis lebih baik lagi untuk memberi cerita selanjutnya, komentar positif Anda akan merupakan penguat atau memberi imbalan pada perilaku menulis murid. Jika anda merengut pada murid yang bicara di kelas dan kemudian perilaku bicara itu menurun, maka Anda yang merengut itu merupakan hukuman bagi tindakan si murid.
Penguatan boleh jadi kompleks. Penguatan berarti memperkuat. Dalam penguatan positif, frekuensi respons meningkat karena diikuti  dengan stimulus yang mendukung (rewarding), seperti dalam contoh dimana komentar positif guru meningkatkan perilaku menulis murid. Demikian pula, memuji orang tua yang mau hadir dalam rapat orang tua guru mungkin akan mendorong mereka untuk kelak ikut rapat lagi.
Dalam penguatan negative, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan) (Frieman, 2002). Misalnya, ayah mengomeli putranya agar mau mengerjakan PR. Dia terus mengomel. Akhirnya, anak itu lelah mendengarkan omelan dan mengerjakan PR menghilangkan stimulus yang tidak menyenangkan (omelan). Perhatikan perilaku Anda setelah stress karena mengajar seharian. Anda sakit kepala, minum aspirin, dan sakit kepala lenyap. Minum aspirin adalah  akan diperkuat jika tindakan ini mengurangi rasa sakit kepala.
Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan negative adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negative, ada sesuatu yang dikurangi atau dihilangkan. Adalah mudah  untuk mengacaukan penguatan negative dengan hukuman (punishment). Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa penguatan negative meningkatkan probabilitas terjadinya sautu perilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku. Gambar 7.4. meringkaskan dan menyajikan contoh dari konsep penguatan positif, penguatan negative, dan hukuman.


PENGUATAN POSITIF
Perilaku

Murid mengajukan pertanyaan yang bagus
Konsekuensi

Guru menguji murid
Perilaku ke Depan

Murid mengajukan lebih banyak pertanyaan


PENGUATAN NEGATIF
Perilaku

Murid menyerahkan PR tepat waktu
Konsekuensi

Guru berhenti menegur
Perilaku ke Depan

Murid makin sering menyerahkan PR tepat waktu
HUKUMAN
Perilaku

Murid menyela guru
Konsekuensi

Guru menegur murid langsung
Perilaku ke Depan

Murid berhenti menyela guruyaan
             
Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk positif dan negatif. Dalam keda bentuk itu, konsekuensinya meningkatkan perilaku dalam hukuman perilakunya berkurang.

Gambar 7.4. Penguatan dan Hukuman

Generalisasi, diskriminasi, dan pelenyapan. dalam bahasan pengkondisian klasik, kita telah mendiskusikan generalisasi, diskriminasi dan pelenyapan. proses ini juga merupakan dimensi penting dari pengkondisian operan (Hergenham & Olson, 2001). Ingat bahwa dalam pengkondisian klasik, generalisasi adlah tendensi dari suatu stimulus yang sama dengan conditioned stimulus untukm enghasilkan respos yang sama terhadap conditioned response. Generalisasi dalam pengkondisian operan berarti memberikan respons yang sama terhadap stimulus yang sama. Yang menarik adalah sejauh mana perilaku digeneralisir dari siatusi ke situasi lainnya. Misalnya, jika pujian guru membuat murid belajar lebih keras di kelas, apakah pujian serupa akan juga membuat murid bekerja lebih keras untuk tugas di luar kelas seperti pekerjaan rumah? Atau, jika misalnya guru memuji murid karena mengajukan pertanyaan yang bagus dalam pelajaran bahasa Inggris, akankah pujian untuk pelajaran matematika, sejarah, dan lainnya akan membuat murid belajar lebih keras ?
Ingat bahwa dalam pengkondisian klasik, diskriminasi berarti merespons stimuli tertentu tapi tidak merespons stimuli lainya. Diskriminasi dalam pengkondisian operan berarti pembedaan di antara stimulis dan kejadian lingkungan. Misalnya, seorang murid tahu bahwa laci di meja guru yang bertuliskan “matematika” adalah tempat guru menyimpan tugas matematika hari ini, sedang yang bertulis “Inggris” adalah tempat menyimpan tugas bahasa inggris hari ini. Hal ini mungkin kedengarannya sederhana, tetapi ini adalah penting karena dunia murid dipenuhi dengan stimuli diskriminatif seperti itu. Di sekitar sekolah stimulis diskriminatif ini mungkin berupa tanda yang bertuliskan “Jangan Mendekat”, “Buat Barisan Di Sini”, dan sterusnya. Kita akan membahas lebih lanjut tentang stimuli diskriminatif nanti dibagian analisis perilaku terapan.
Dalam pengkondisian operan, pelenyapan (extinction) terjadi ketika respons penguat sebelumnya tidak lagi diperkuat dan responnya menurun. Di kelas, penggunaan pelenyapan yang paling umum bagi guru adalah tidak lagi memberi perhatian pada suatu perilaku. Misalnya, dalam beberapa kasus guru memberi perhatian yang kurang bijaksana, sehingga malah memperkuat tindakan disruptif, seperti ketika murid mencubit murid lain lalu guru kemudian langsung bicara dengan pelakunya. Apabila ini terjadi secara terus menerus, murid itu mungkin akan menyadari bahwa tindakan mencubit murid lain adalah cara yang bagus untuk mendapat perhatian guru. Jika guru tidak lagi memerhatikan hal seperti itu, maka tindakan mencubit akanlenyap, kita akan membahas soal ini dalam pembahasan analisis perilaku terapan.

Through the Eyes of Teachers
Penguatan Positif yang Berhasil
Pada awal karier saya, saya mengajar kelas bahasa asing (Perancis, Latin dan Spanyol) untuk anak grade 9   di sekolah menengah. Melalui kerja sama dengan seorang rekan, seorang konselor, saya bereksperimen dengan penguatan verbal positif sebagai cara untuk memfokuskan  murid pada tugas dan sebagai cara untuk mendorong mereka untuk belajar. Saya secara sadar berusha memberikan penguatan positif jika dimungkinkan dan mencatat berapa kali saya memberi penguatan di kelas. Saya dan konselor saya mengamati efek pada jumlah partisipasi dan perilaku murid. Partisipasi meningkat dan perilaku bertambah baik.

Barbara Berry
Guru Bahasa Perancis dan Humaniora
Ypsilanti High School
Ypsilanti Mchigan


Review & Reflect
·         Definisikan pembelajaran  dan deskripsikan lima pendekatan utama untuk mempelajarinya.


Review
·         Apa pengkondisian klasik itu? Buat contoh sendiri untuk mengilustrasikan  hubungan antara US, UR, CS, dan CR. Dalam konteks pengkondisian klasik, apa arti dari generalisasi, diskriminasi, pelenyapan, dan desentisisasi?
·         Bagaimana pengkondisian operan berhubungan dengan hukum Efek Thorndike? Jelaskan tipe penguatan dan hukuman yang berbeda-beda. Dalam konteks pengkondisian operan, apa arti dari generalisasi, diskriminasi, dan pelenyapan?
Reflect
·         Apakah emosi Anda adalah akbiat dari pengkondisian klasik atau pengkondisian operan? Atau dari keduanya? Jelaskan alasan Anda !
                                
ANALISIS PERILAKU TERAPAN DALAM PENDIDIKAN
Banyak aplikasi pengkondisian operan telah dilakukan di luar riset laboratorium antara lain  di kelas, rumah, setting bisnis, rumah sakit, dan tempat lain di dunia nyata (Hill, 2002).

No comments: