Sponsor

Tuesday, 31 December 2013

Sang Penjaga Budaya Betawi ...




Tanpa mereka, harta karun turun-temurun tak ada gunanya. Tanpa mereka, manusia akan dikenang sebagai durhaka. Tanpa mereka, nilai-nilai luhur kehidupan tidak terjaga dan tanpa mereka, kebudayaan Betawi dapat saja sirna.

Usia senja dan tubuh yang tak lagi prima, para penjaga bertahan dari serbuan budaya modern. Berusaha menggantikan nilai-nilai lama yang dianggap usang. Letih kadang mendera, bosan kadang melanda. Namun nasib sudah tertulis, nilai dan budaya harus dijaga.

Menyandang status sebagai Ibu Kota telah menjadi beban tersendiri. Bagaimana mungkin etalase negara Republik Indonesia tak punya identitas? Di tengah derap langkah pembangunan kota, mereka pun tidak kenal lelah menjaga dan melestarikan harta nenek moyang. Jawara yang Rendah Hati Pukul serta tendang, adalah aksi favoritnya. Entah sudah berapa puluh orang takluk di tangannya. Tapi justru karena hal itu yang membuat pria bernama Hj Sanusi atau yang akrab disapa Babeh Uci, menjadi guru dari 10 ribu murid serta menorehkan prestasi.

Pencak silat adalah pilihan hidup Babeh Uci. Pria kelahiran Pondok Bambu, Jakarta, 4 September 1931 tersebut adalah jawara di bidang silat Betawi. Lima puluh tahun sudah dia mengabdikan diri melestarikan Silat Betawi. Namun, itu tak membuatnya tinggi hati. Dengan rendah hati, dia mengaku tetap terus belajar unsur silat.

"Jika Yang Maha Kuasa masih memberi kesempatan, mungkin ini saya akan tetap belajar serta mengajar silat. Ada sekitar 300 aliran silat di Betawi yang harus digali dan dilestarikan,"ujar kakek 9 anak dan 35 cucu kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Kekuatan di bawah kerendahan hati itu juga yang membawa Uci memenangkan beragam penghargaan. Tak hanya itu, Babeh Uci pun turut berkontribusi di dunia perfilman. Dia dipercaya menjadi fighting instructor di beragam film laga lawas, antara lain Pitung, si Bongkok, Jampang Mencari Naga Hitam, Nyai Dasimah, Selimut Malam, Laki-laki Pilihan, Sangkuriang, Tangkuban Perahu dan lainya.

Sang Sutradara Ondel-ondel

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Ungkapan pepatah itu relevan menggambarkan sosok Nendra WD. Bagaimana tidak, perkawinan selebritas lawas WD Mochtar-Sofia WD melahirkan anak dengan aliran seni di dalam darah dan dagingnya.

Kecintaan pada kesenian Betawi membuat Nendra kecil kerap tampil di panggung tradisional Betawi. Lenong, sastra Betawi, dan beragam produk kebudayaan Betawi diikutinya dengan diiringi jua sederet prestasi gemilang. Tak hanya di depan layar Nendra pun merambah dunia penyutradaraan, yakni sinetron Ondel-ondel.

"Lewat sinetron Ondel-ondel, saya ingin masyarakat tahu betapa sulitnya kita warga Betawi mempertahankan ondel-ondel di tengah kehidupan yang seba canggih ini," ujarnya.

Haru di Negeri Kincir Angin

Tepuk tangan ratusan penonton di salah satu gedung pertunjukan di negeri Belanda tidak mungkin dilupakan M Taufik. Haru memuncak saat musik keroncong yang dimainkannya bersama Orkes Kroncong Bandar Jakarta pimpinan Haji Yoyo Muchtar mendapat sambutan meriah orang seberang. Keroncong Betawi adalah musik pilihan pria yang akrab disapa Bang Topik ini. Ia menjadi organiser keroncong sejak 1989. Namun, ia telah bergabung ke dalam orkestra keroncong sejak tahun 1970.

Kecintaan pada keroncong membawanya tampil di penjuru Indonesia dan beberapa negara lain, salah satunya di negeri kincir angin. Langkah pria asli Betawi pemain Cello di dalam orkes keroncong ini pun terasa ringan. Keinginannya keroncong menjadi musik pilihan generasi muda saat ini terwujud. Banyak anak muda yang tertarik dan berguru padanya melantunkan musik keroncong itu.

"Saya sangat senang membina mereka. Bagaimanapun musik ini harus lestari. Pemainnya pun harus regenerasi," ujar Bang Topik.

Waktu Habis untuk Betawi

Kesenian Betawi adalah hidupnya. Seluruh waktu serta tenaga dicurahkan demi menjaganya. Itulah seniman, komedian, penyanyi serta penyiar asal Betawi bernama Nori atau yang akrab disapa Mpok Nori. Tak berlebihan memang jika Mpok Nori berguyon, "Habis waktu saya rasanya untuk Betawi," ujarnya tertawa.

Meski berusia senja, wanita kelahiran 10 Agustus 1930 itu tak letih melakoni wanita tua 'nyablak' di seluruh pementasannya. Tak hanya seni lakon, ia juga berperan di balik bermacam sanggar Betawi. Sebut saja, menjadi ketua sanggar tradisional Sinar Norray, salah satu pelatih tari di Ikatan Kesenian Jakarta (IKJ), dan kerap menjadi narasumber di berbagai acara diskusi budaya.

Wanita yang tinggal di bilangan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur tersebut juga pernah menampilkan kebudayaan Betawi di seluruh penjuru Indonesia dan belahan negara lain. Tidak heran, pada masa orde baru, Mpok Nori mendapatkan anugerah tinggi di bidang seni budaya Betawi dari pemerintah. Bahkan, hingga saat ini pun, wanita yang sempat dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu tidak letih tampil di layar kaca.

"Betawi kalau bukan kita yang jaga, mau siapa lagi?" ujarnya.

Amanah Orangtua

Seniman yang satu ini sudah tak asing lagi di belantika musik Rabana Biang. Siapa dia? Haji Mursyidi. Memulai karier di Rebana Biang sejak tahun 1980-an, ia menjadikan amanah orangtuanya sebagai motivasi. Sang ayah berpesan bahwa ia harus meneruskan seni musik Rebana Biang, sampai kapanpun juga.

"Bagaimanapun, Rebana Biang adalah warisan nenek moyang. Ini kalau bukan kita, siapa lagi?" ujarnya. "Mau ada atau enggaknya penonton yang menyaksikan musik ini enggak masalah untuk saya, yang penting ini eksis," lanjutnya.

Amanah tersebut pun tidak dibiarkan Mursyidi berhenti di tangan dirinya. Di sanggar miliknya, ia membina anak-anak muda bermain musik Rebana Biang. Anak-anak yang duduk di SD dan SMP pun antusias belajar musik yang khas dengan nuansa Islami tersebut. Hingga saat ini, musiknya kerap menghiasi acara-acara pejabat, seperti menyambut kedatangan gubernur atau wakil gubernur serta sejumlah acara formal lainnya.

Darah Muda

Dari antara sang penjaga kebudayaan Betawi lainnya, seniman yang satu ini adalah yang paling muda. Pria kelahiran Jakarta pada 1974 silam tersebut bernama Ade Darmawan. Di kalangan seniman, Ade lebih dikenal sebagai pendiri Galeri Ruang Rupa atau yang disingkat Ruru. Di sanalah, seni mendapat tempatnya.

Perjalanan seni rupa Ade dijalani saat ia menempuh pendidikan di SMA. Minat itulah yang menuntun Ade kuliah di Departemen Seni Grafis Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Ia pun memulai prestasi di seni rupa saat menggelar pameran tunggal di Rumah Seni Cimeti tahun 1977 silam.

Usai itu, ia menjalani pendidikan di negeri Belanda hingga kembali 'nyeni' di Jakarta tahun 2000 lalu. Di usia muda, pengalamannya di bidang seni rupa cukup hebat. Melalui Ruru-nya, Ade telah banyak berpartisipasi dalam proyek seni dan pameran mancanegara, seperti Bangkok, Mumbai, Istanbul, Sydney, Mexico City, Antwerpen dan di dalam negeri.

"Di Ruru, kita juga menjadi tempat kreasi dan pameran bagi para seniman baru di Jakarta," ujar pria yang juga kurator ini.

Masing-masing sang penjaga memiliki kisah yang sama soal sulitnya memperjuangkan nilai seni budaya Betawi di tengah-tengah derasnya kemajuan zaman. Kegundahan perjuangan tersebut pun sama. Bagaimana caranya agar kebudayaan tidak ditelan raksasa bernama modernisasi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merasakan kegundahan senada.

Oleh sebab itu, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, penghargaan budaya 2013 kategori seniman diberikan kepada enam penjaga kebudayaan dengan harapan semangat apa yang dilakukan tidak surut serta mendapat penghargaan.

"Pemberian penghargaan ini diharapkan menjadi pendorong bagi seniman dan pihak lainnya untuk berdedikasi yang tinggi serta terus menekuni apa yang digelutinya secara aktif dan inovatif," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI, Arie Budhiman

No comments: