Iklan

Sunday, 2 September 2012

PENJELASAN TEORI GESTALT

 
A.      Riwayat Tokoh Pemikir Teori Gestalt
Perintis teori Gestalt ini ialah Chr. Von Ehrenfels, dengan karyanya “Uber Gestaltqualitation“ (1890). Aliran ini menekankan pentingnya keseluruhan  yaitu sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya dan timbul lebih dulu dari pada bagian-bagiannya. Para Pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi aliran-aliran lain. Bagi yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer ialah keseluruhan, sedangkan bagian-bagiannya adalah sekunder. Bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain. Keseluruhan ada terlebih dahulu, baru disusul oleh bagian-bagiannya.
Teori ini kemudian dikembangkan di Eropa pada sekitar tahun 1920-an. Psikologi gestalt memperkenalkan suatu pendekatan belajar yang berbeda secara mendasar dengan teori asosiasi (behaviorism). Tepatnya lahir di Jerman tahun 1912 dipelopori dan dikembangkan oleh Max Wertheimer (1880 – 1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Hasil pengamatannya ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah, dan menghendaki agar murid belajar  dengan pengertian bukan hafalan akademis. Sumbangannya ini diikuti tokoh-tokoh lainnya, seperti Wolfgang Kohler (1887 – 1959) yang meneliti tentang “insight” pada simpanse yaitu mengenai mentalitas simpanse (ape) di pulau Canary. Kurt Koffka (1886 – 1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, dan Kurt Lewin (1892 – 1947) yang mengembangkan suatu teori belajar (cognitif field) dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Penelitian-penelitian mereka menumbuhkan psikologi gestalt yang menekankan bahasan pada masalah konfigurasi, struktur, dan pemetaan dalam pengalaman.

B.       Pokok-pokok Teori
Istilah ‘gestalt’ merupakan istilah bahasa Jerman yang sukar dicari terjemahannya dalam bahasa-bahasa lain. Arti gestalt bisa bermacam-macam, yaitu form, shape (dalam bahasa Inggris) atau bentuk, hal, peristiwa, hakikat, esensi, totalitas. Terjemahannya dalam bahasa Inggris pun bermacam-macam antara lain shape psychology, configurationism, whole psychology dan sebagainya. Karena adanya kesimpangsiuran dalam penerjemahannya, akhirnya para sarjana di seluruh dunia sepakat untuk menggunakan istilah ‘gestalt’ tanpa menerjemahkan ke dalam bahasa lain. 
Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton, 1990:89). Para pengikut gestalt berpendapat bahwa sensasi atau informasi harus dipandang secara menyeluruh, karena bila dipersepsi secara terpisah atau bagian demi bagian, maka strukturnya tidak jelas. Menurut Katona (dalam Resnick&Ford, 1981:139) penemuan struktur terhadap sensasi atau informasi diperlukan untuk dapat memahaminya dengan tepat.
            Pokok-pokok pandangan teori gestalt berangkat dari empat asumsi dasar (Mohamad Surya, 2004:31), yaitu:
1.      Perilaku molar hendaknya lebih banyak dipelajari dibandingkan dengan pandangan molecular. Perilaku molecular adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku moral adalah perilaku dalam kaitannya dengan lingkungan luar.
2.      Hal terpenting dalam mempelajari perilaku adalah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral adalah merujuk kepada sesuatu yang nampak.
3.      Organisme tidak mereaksi pada rangsangan lokal atau unsur-unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa.
4.      Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensori adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis.
Teori gestalt dibangun dari data hasil eksperimen yang sebelumnya belum dapat dijelaskan oleh ahli-ahli teori asosiasi. Meskipun pada awalnya psikologi gestalt hanya dipusatkan pada fenomena yang dapat dirasa, tetapi pada akhirnya difokuskan pada fenomena yang lebih umum, yaitu hakikat belajar dan pemecahan masalah (Resnick & Ford, 1981:129-130).
Psikologi gestalt  bermula pada lapangan pengamatan  (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai  peranan latar  belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat dibantah. Ketika para ahli psikologi gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat/sukses dalam penelitian  mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar. Karena asumsi bahwa  hukum–hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan  dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu  memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu. Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola  persepsi manusia. Pemahaman  dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebih dari pada bagian- bagiannya.
            Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. Menurut para ahli psikologi gestalt manusia itu bukanlah hanya sekedar mahluk reaksi yang hanya berbuat atau bereaksi jika ada perangsang yang mempengaruhinya. Manusia adalah individu yang merupakan kebulatan jasmani dan rohani. Sebagai individu manusia berinteraksi dengan dunia luar dengan kepribadianya dan dengan caranya yang unik.
Selanjutnya  Wertheimer, seorang  yang di pandang pendiri aliran ini mengemukakan eksperimennya mengenai  “Scheinbewegung“ (gerak semu) memberikan kesimpulan, bahwa pengamatan mengandung  hal yang melebihi  jumlah unsur-unsurnya. Penelitian dalam bidang optik ini juga dipandang berlaku (kesimpulan serta prinsip-prinsipnya) di bidang lain, seperti  misalnya di bidang belajar.

C.      Hakikat Belajar
Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar, diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. Menurut Kohler (dalam Orton, 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengaitan antara stimulus dan respon, tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. Katona, seorang ahli psikologi gestalt yang lain, juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengaitan stimulus dan respon. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur, melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford, 1981:143-144).
            Menurut teori gestalt, belajar merupakan suatu proses perolehan atau perubahan insait-insait (insight), pandangan-pandangan (outlooks), harapan-harapan, atau pola-pola pikir (Ratna Wilis Dahar, 1988:24). Insight adalah pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan teori gestalt, guru tidak memberikan potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu satu kesatuan yang utuh. Guru memberikan suatu kesatuan situasi atau bahan yang mengandung persoalan-persoalan, dimana anak harus berusaha menemukan hubungan antar bagian, memperoleh insight agar ia dapat memahami keseluruhan situasi atau bahan ajaran tersebut. Insight itu sering dihubungkan dengan pernyataan spontan seperti “aha” atau “oh, see now”. Menurut teori gestalt ini pengamatan manusia pada awalnya bersifat global terhadap objek-objek yang dilihat, karena itu belajar harus dimulai dari keseluruhan, baru kemudian berproses kepada bagian-bagian.
Menurut aliran teori belajar gestalt, bahwa seseorang dikatakan belajar jika mendapatkan insight. Insight ini diperoleh kalau seseorang melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalan situasi tertentu. Dengan adanya insight maka didapatlah pemecahan problem, dimengertinya persoalan; inilah inti belajar. Jadi yang penting bukanlah mengulang-ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight. Adapun timbulnya insight itu tergantung kepada beberapa hal, yakni:
1.        Kesangupan, maksudnya kesanggupan atau kemampuan intelegensi individu.
2.        Pengalaman, karena belajar, berati akan mendapatkan pengalaman dan pengalaman itu mempermudah munculnya insght.
3.        Taraf kompleksitas dari suatu situasi, semakin komplek situasinya semakin sulit masalah yang dihadapi.
4.        Latihan, dengan banyaknya latihan akan dapat mempertinggi kesangupan memperoleh insight, dalam situasi-situasi yang bersamaan yang telah dilatih.
5.        Trial and eror, sering seseorang itu tidak dapat memecahkan suatu masalah, baru setelah mengadakan percobaan-percobaan, sesorang itu dapat menemukan hubungan berbagai unsur dalam problem itu, sehingga akhirnya menemukan insight.
Menurut Hilgard (1948 : 190-195) memberikan enam macam sifat khas belajar dengan insight:
1.    Insight termasuk pada kemampuan dasar
Kemampuan dasar berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang lain. Pada umumnya anak yang masih sangat muda sukar untuk belajar dengan insight ini.
2.    Insight itu tergantung pengalaman masa lampau yang relevan.
3.    Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental.
4.    Insight itu didahului oleh suatu periode coba-coba.
5.    Belajar dengan insight itu dapat diulangi.
6.    Insight yang telah sekali didapatkan dapat dipergunakan untuk menghadapi   situasi-situasi yang baru.
Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :
1.        Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan sebagainya
2.        Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
3.        Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan segala aspek-aspeknya.
4.        Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
5.        Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
6.        Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi memberi dorongan yang menggerakan seluruh organisme.
7.        Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
8.        Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi.
Jadi, menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami.

D.      Hukum-hukum Belajar Gestalt
Dalam hukum-hukum belajar gestalt ini ada satu hukum pokok, yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum tambahan  (subsider) yang tunduk kepada hukum pokok itu, yaitu hukum-hukum keterdekatan, ketertutupan, kesamaan, dan kontinuitas.
1.    Hukum Pragnaz
Hukum Pragnaz ini menunjukkan tentang berarahnya segala kejadian, yaitu berarah kepada Pragnaz. Hal ini mengandung arti suatu keadaan  yang seimbang, yang mencakup sifat-sifat keturunan, kesederhanaan, kestabilan, simetri, harmonis dan sebagainya.
Medan pengamatan, setiap hal yang dihadapi oleh individu, mempunyai sifat dinamis, yaitu cendrung untuk menuju keadaan Pragnaz itu, keadaan seimbang. Keadaan yang problematis adalah keadaan yang tidak Pragnaz, tidak teratur, tidak sederhana, tidak stabil, tidak simetris, dan sebagainya. Pemecahan masalah tersebut adalah mengadakan perubahan ke dalam struktur medan atau hal itu dengan memasukkan  hal-hal yang dapat membawa hal problematis ke sifat Pragnaz.
Untuk menemukan Pragnanz diperlukan adanya pemahaman atau insight, menurut Ernest Hilgard ada enam ciri dari belajar pemahamn ini yaitu:
1.        Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar.
2.        Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu yang relevan.
3.        Pemahaman tergantung kepada pengaturan situasi, sebab insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar itu diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati.
4.        Pemahaman didahului oleh usaha coba-coba, sebab insight bukanlah hal yang dapat jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan adalah hal yang harus dicari.
5.        Belajar dengan pemahaman dapat diulangi, jika sesuatu problem yang telah dipecahkan dengan insight lain kali diberikan lagi kepada pelajar yang bersangkutan, maka dia dapat langsung memecahkan problem itu lagi.
6.        Suatu pemahaman dapat diaplikasikan atau dipergunakan bagi pemahaman situasi lain.

2.    Hukum-hukum Tambahan
Ahli-ahli psikologi gestalt telah mengadakan penelitian secara luas dalam bidang penglihatan dan akhirnya mereka menemukan bahwa objek-objek penglihatan itu membentuk diri menjadi gestalt-gestalt menurut prinsip-prinsip tertentu. Adapun prisip-prinsip tersebut dapat dilihat pada hukum-hukum, yaitu :
1.        Hukum keterdekatan, artinya yang terdekat merupakan gestalt.
2.        Hukum ketertutupan, artinya yang tertutup merupakan gestalt.
3.        Hukum kesamaan, artinya yang sama merupakan gestalt.
4.        Hukum kontinuitas, artinya yang kontinu merupakan gestalt.
Teori gestalt banyak dipakai dalam proses desain dan cabang seni rupa lainnya, karena banyak menjelaskan bagaimana persepsi visual bisa terbentuk. Persepsi jenis ini bisa terbentuk karena:
1.        Kedekatan posisi (proximity)
2.        Kesamaan bentuk (similiarity)
3.        Penutupan bentuk (closure)
4.        Kesinambungan pola (continuity)
5.        Kesamaan arah gerak (common fate)
Faktor inilah yang menyebabkan kita sering bisa merasakan keteraturan dari pola-pola yang sebenarnya acak. Misalnya saat seseorang melihat awan, dia dengan mudah bisa menemukan bentuk muka seseorang. Hal ini disebut pragnan.

E.       Kondisi Pendukung Proses Belajar Efektif
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran seperti dikutip Mohamad Surya (2004:34-35) antara lain:
1.        Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
2.        Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
3.        Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
4.        Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
5.        Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.



F.       Faktor Determinan yang Mempengaruhi Masalah Belajar
Faktor dominan yang menghambat dalam belajar dapat digolongkan menjadi empat macam, seperti yang dikemukan Oemar Hamalik dalam bukunya Metode Belajar dan Kesulitan Belajar (1982:83) yaitu :
1.    Faktor-faktor yang bersumber dari diri anak adalah sebagai berikut :
a. Kesehatan yang sering terganggu
b. Kecakapan mengikuti pelajaran
c. Kebiasaan belajar
d. Kurangnya penguasaan bahasa.
2.    Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan sekolah :
a. Cara memberikan pelajaran
b. Kurangnya bahan-bahan bacaan                                                                     
c. Bahan pelajaran tidak sesuai dengan kemampuan
d. Penyelenggaraan pengajaran terlalu padat
3.    Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan keluarga :
a. Masalah broken home
b. Rindu kampung
c. Bertamu dan menerima tamu
d. Kurangnya kontrol orang tua.
4.    Faktor yang bersumber dari lingkungan masyarakat :
a. Gangguan dari jenis kelamin lain
b. Bekerja disamping belajar di sekolah
c. Aktif berorganisasi
d. Tidak dapat membagi waktu, rekreasi dan waktu senggang
e. Tidak mempunyai teman belajar
Keempat faktor di atas, tidak jauh berbeda dengan faktor yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (2004) dalam bukunya, Psikologi Pendidikan, yaitu:
1.    Faktor pada diri organisme itu sendiri yang disebut faktor individual. Termsuk ke dalam faktor ini adalah kematangan/pertumbuhan, kecrdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi.
2.    Faktor di luar individu yaitu faktor sosial. Termasuk ke dalam faktor ini adalah keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar-mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi sosial.
Upaya untuk menghindari kesulitan belajar dalam proses belajar mengajar sudah menjadi harapan setiap guru/pengajar agar siswanya dapat mencapai prestasi. Namun, pada kenyataan tidak selalu seperti yang diharapkan. Beberapa siswa menunjukkan nilai kurang meskipun sudah diusahakan dengan sebaik-baiknya. Kesulitan belajar merupakan suatu gejala yang dapat dilihat dalam berbagai jenis kenyataan. Di sini guru/pengajar sebagai orang yang bertanggung jawab dalam proses belajar mengajar berperan untuk dapat memahami gejala-gejala kesulitan belajar. Bagi seorang guru/pengajar yang memahami kesulitan belajar siswa merupakan dasar dalam usaha memberi bantuan kepada siswa. Beberapa ciri tingkah laku kesulitan belajar:
a.         Menunjukkan hasil belajar yang rendah.
b.        Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
c.         Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar.
d.        Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, suka menentang, dusta.
e.         Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, seperti suka membolos, tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR).
f.         Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti perenung, rendah diri, sedih, menyesal, pemarah, mudah tersinggung, dan sebagainya.
Tiap siswa tentu memiliki keinginan supaya dalam belajar dapat berhasil sebaik-baiknya. Tidak ada yang mengharapkan kegagalan dalam belajar. Kegagalan akan menimbulkan kekecewaan, malas belajar, rendah diri atau bahkan mungkin dapat mempengaruhi jiwanya. Demikian juga harapan pendidik dan pengajar menghendaki siswanya berhasil belajar dengan baik tanpa mengalami hambatan. Dalam buku Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar oleh Suparno, S. dan Koestoer, H. Partowisastro. (1986:54) dikatakan bahwa salah satu tugas paling sulit bagi guru/pengajar dan penyuluh pendidikan ialah mengadakan diagnosis dan membantu memecahkan kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Dengan demikian, tidak dapat diketahui dengan pasti apakah suatu cara pemecahan kesulitan dapat dipergunakan untuk menolong memecahkan kesulitan setiap siswa. Dalam pemecahan masalah diperlukan langkah-langkah yang teratur agar pemecahan masalah dapat dilakukan dengan teliti. Langkah-langkah tersebut terdiri dari 3 (tiga) tahap yaitu :
1.        Penelaahan status. Tahap ini merupakan tahap identifikasi hakikat dan seberapa luas cakupan masalah kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa.
2.        Perkiraan sebab. Tahap ini merupakan perkiraan alasan atau sebab yang mendasari pola hasil belajar yang diperlihatkan oleh siswa yang bersangkutan.
3.        Pemecahan dan penilaian. Tahap ini merupakan tahap usaha menghilangkan sebab timbulnya kesulitan yang dihadapi siswa, dan apabila tidak dapat disembuhkan, akan menjadi tahap untuk memberikan bantuan kepada siswa sesuai dengan sebabnya.

G.      Analisa dan Pembahasan
Teori gestalt merepukan salah satu bukti penemuan yang dapat mengilhami dunia pendidikan. Teori ini telah memperkaya teori-teori yang ada sebelumnya. Sehingga bagi kita memiliki banyak pilihan referensi untuk mengaplikasikannya dalam proses belajar mengajar.
Tidak ada satu teori yang cocok untuk semua kondisi pembelajaran, sebab jeni-jenis belajar itu berbeda-beda. Belajar ada yang bertahap rendah dan ada yang bertahap tinggi, ada yang belajar dalam tingkat biologis dan ada yang belajar pada tingkat rohaniah, ada belajar yang bersifat skills atau kecekatan dan ada yang bersifat rasional (Ngalim Purwanto: 2004). Oleh karena itu, kita perlu memilah-milah teori tersebut dan memandangnya sesuai kebutuhan  jenis-jenis belajar yang diselidiki.
Namun, secara umum proses belajar mengajar melibatkan beberapa komponen, yakni, pengajar, pelajar, metode dan alat pembelajaran, materi, serta lingkungan. Proses pembelajaran yang efektif adalah proses interaksi antara pelajar dan pembelajar dalam situasi yang kondusif.  Dalam keseluruhan kegiatan belajar mengajar, faktor pengajar memegang peranan utama atas keberhasilan pembelajaran. Salah satu yang paling strategis adalah mengenal dan menerapkan berbagai aspek psikologis dalam keseluruhan kegiatan pendidikan, khususnya proses belajar mengajar (Mohamad Surya: 2004).
Dalam mewujudkan perilaku mengajar yang tepat, diperlukan karakteristik pengajar sebagai berikut:
1.        Memiliki minat yang besar terhadap pelajaran dan mata pelajaran yang diajarkannya.
2.        Memiliki kecakapan untuk memperkirakan kepribadian dan suasana hati secara tepat serta membuat kontak dengan kelompok secara tepat.
3.        Memiliki kesabaran, keakraban, dan sensitivitas yang diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar.
4.        Memiliki pemikiran yang imajinatif (konseptual) dan praktis dalam usaha memberikan penjelasan kepada peserta didik.
5.        Memiliki kualifikasi yang memadai dalam bidangnya, baik isi maupun metode.
6.        Memiliki sikap terbuka, luwes, dan eksperimental dalam metode dan teknik.
Interaksi pembelajaran terjadi proses saling mempengaruhi antara pembelajar dengan pelajar dalam bentuk pencapaian hasil belajar. Agar proses pembelajaran tersebut berlangsung efektif, pembelajar harus memperhatikan beberapa hal, yakni:
1.      Penjabaran tujuan
2.      Motivasi kepada siswa
3.      Penggunaan metode
4.      Urutan materi
5.      Bantuan dalamusaha pertama
6.      Pengaturan latihan secara efektif
7.      Masalah perbedaan individu
8.      Evaluasi dan bilbingan.
9.      Usaha menghapal, dan
10.  Bantuan dalam aplikasi hasil belajar.
Terpenting dari semua itu adalah bagaimana pengajar dapat memberikan motivasi dan dorongan kepada peserta didik untuk mampu mengkonstruksi pengalaman-pengalaman yang dimiliki peserta didik. Sehingga seperti apa yang diharapkan oleh teori gestalt belajar bukan menghapal tetapi memahami makna dari pengalaman-pengalaman yang telah diperoleh, kemudian disusun kembali menjadi struktur yang sederhana.





H.      Kesimpulan dan Saran
1.        Kesimpulan
Teori gestalt merupakan salah satu teori belajar yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan. Teori ini dapat diaplikasikan pada proses pembelajaran, namun perlu disesuaikan dengan karakteritik kegiatan belajar.
Menurut teori gestalt belajar adalah suatu proses rentetan penemuan dengan bantuan pengalaman-pengalaman yang sudah ada. Belajar terjadi karena adanya pengertian (insight) yang muncul apabila seseorang setelah beberapa saat mencoba memahami suatu masalah, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, keterkaitan hubungan, dipahami sangkut pautnya dan dimengerti maknanya. Dengan demikian, manusia belajar memahami lingkungan sekitarnya dengan jalan mengatur menyusun kembali pengalaman-pengalamannya yang banyak dan berserakan menjadi suatu struktur dan kebudayaan yang berarti dan dipahami olehnya.

2.        Saran
Teori gestalt menginginkan adanya pengertian dalam belajar yang ditemukan dari pengalaman-pengalaman yang diperoleh siswa sebelumnya. Oleh karena itu, proses pembelajaran harus memberikan banyak pengalaman dan penelitian pada siswa, sehingga mereka dapat mencari sendiri (pengertian) makna dari apa yang dipelajarinya.
Tantangan bagi para pendidik diharapkan agar kreatif menggali dan memahami karakteristik pembelajaran, sehingga tidak salah dalam menentukan dan menerapkan teori, metode dan pemilihan media belajar. Karakteristik yang perlu diperhatikan antara lain:
1.      Karakteristik dan kebutuhan pembelajar/siswa, kebutuhan siswa Sekolah Dasar berbeda dengan Sekolah Menengah, siswa berkebutuhan khusus tentu berbeda dengan siswa biasa, kemungkinan siswa perempuan dengan laki-laki memerlukan perlakuan yang berbeda, begitu juga latar belakang siswa sangat berpengaruh.
2.      Materi pelajaran, materi satu pelajaran dengan pelajaran yang lain berbeda, pelajaran biologi akan berbeda dengan matematika, begitu juga denan pelajaran lainnya.
3.      Lingkungan pendidikan, di sekolah yang ada di daerah perkotaan dengan daerah di pedesaan bebeda karakteristiknya.
4.      Karakteristik media dan alat pembelajaran, media dan alat pembelajaran juga mempengaruhi teori mana yang perlu digunakan, sebaliknya teori yang dipakai mempengaruhi pada media dan alat apa yang digunakan.
















Daftar Pustaka

Mudassir. (2006). Cara Belajar Efektif dan Bermakna dan Beberapa Faktor Kesuitan Belajar Akuntansi. IQRA’4 3 Volume 2 Juli – Desember 2006.

Mohamad Surya. (2004). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quaraisy.

Ngalim Purwanto. (2004). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Ratna Wilis Dahar. (1988). Teori Belajar. Jakarta: P2LPTK.




1 comment:

Bitebrands said...

Teori Gestalt: Memahami Fenomena Visual ~ BiteBrands http://bit.ly/10nN6Ox